Program renovasi rumah menjadi perhatian pemerintah, terutama untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa anggaran perbaikan rumah disiapkan senilai Rp20 juta per unit.

Program renovasi rumah menyoroti pentingnya penggantian atap yang sudah tidak layak. (Foto: Tempo)
Dari total anggaran tersebut, sebagian dialokasikan untuk penggantian atap genteng. Program ini juga disebut sebagai bagian dari upaya mengganti atap rumah yang masih menggunakan seng.
Prabowo menyampaikan bahwa biaya untuk genteng diperkirakan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per rumah. Pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan genteng dari olahan limbah plastik.
Gagasan tersebut disampaikan saat Prabowo mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi di Banyumas, Jawa Tengah. Tempat tersebut diketahui mampu menghasilkan berbagai produk olahan, termasuk genteng dari sampah plastik.
Menurut Prabowo, genteng dari olahan limbah tersebut dinilai cukup efektif dan berpotensi masuk dalam skema bantuan perbaikan rumah.
Ia juga menyoroti penggunaan atap seng yang mudah berkarat. Selain kurang nyaman secara visual, atap seng yang sudah tua juga dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan penghuni.
Dari sisi konstruksi rumah, pemilihan material atap memang sangat penting. Atap menjadi pelindung utama bangunan dari panas, hujan, dan perubahan cuaca.
Jika atap tidak layak, rumah akan lebih mudah mengalami kebocoran, panas berlebih, karat, hingga kerusakan plafon dan rangka. Karena itu, penggantian atap sering menjadi prioritas dalam renovasi rumah.
Pemilik rumah yang ingin merenovasi atap sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal, seperti jenis material, kemiringan atap, rangka, sistem talang, sirkulasi udara, dan risiko kebocoran.
Renovasi atap tidak boleh hanya mengejar tampilan. Pekerjaan harus memperhatikan kekuatan struktur, daya tahan material, serta keamanan pemasangan agar hasilnya awet dan nyaman dihuni.
Sumber: Lihat artikel asli