Atap bocor dapat terjadi pada berbagai jenis bangunan, mulai dari rumah tinggal, ruko, gedung komersial, hingga fasilitas publik. Insiden kebocoran atap di Boarding Lounge Gate 7 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menjadi contoh pentingnya pengawasan dan perawatan infrastruktur secara rutin.
/data/photo/2026/04/06/69d372e1de3b8.jpg)
Kebocoran atap pada fasilitas publik menunjukkan pentingnya pengecekan infrastruktur saat cuaca ekstrem. (Foto: Kompas)
Peristiwa tersebut viral setelah video memperlihatkan air hujan masuk ke area ruang tunggu penumpang. Insiden terjadi saat cuaca ekstrem melanda wilayah sekitar bandara.
Pihak pengelola menyatakan bahwa gangguan terjadi dalam waktu singkat dan langsung ditangani petugas di lapangan. Area terdampak juga dibersihkan dan dibatasi agar kondisi kembali aman.
Assistant Deputy Communication and Legal KC Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, menjelaskan bahwa kebocoran terjadi di satu titik dan berlangsung sekitar lima menit sebelum berhasil dikendalikan.
Petugas operasional disebut langsung melakukan penanganan, termasuk pembersihan dan pembatasan area terdampak. Operasional bandara tetap berjalan normal setelah kondisi kembali kondusif.
Dari sisi bangunan, kejadian seperti ini menunjukkan bahwa atap dan sistem drainase perlu diperiksa secara berkala, terutama sebelum dan selama musim hujan.
Pada bangunan besar, kebocoran tidak selalu disebabkan oleh penutup atap yang rusak. Penyebabnya bisa berasal dari talang yang tersumbat, sambungan atap yang terbuka, plafon yang jenuh air, drainase tidak mampu menampung debit hujan, atau sealant yang sudah melemah.
Untuk rumah tinggal, prinsipnya juga sama. Pemilik rumah sebaiknya rutin memeriksa genteng, dak beton, talang, nok, flashing, dan area sambungan atap agar kebocoran bisa diketahui lebih awal.
Jika kebocoran hanya ditangani dari bagian plafon tanpa memperbaiki sumber air, masalah akan terus berulang. Karena itu, perbaikan atap bocor harus dimulai dari identifikasi titik masuk air.
Perawatan atap yang baik dapat mengurangi risiko kerusakan plafon, dinding lembap, instalasi listrik terganggu, hingga biaya renovasi yang lebih besar di kemudian hari.
Sumber: Lihat artikel asli